Persiapan Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia “Sejarah Lengkap”

Posted on
Persiapan Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia “Sejarah Lengkap”
5 (100%) 1 vote[s]

Persiapan Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan

Perbedaan Pendapat antara Golongan Tua dan Golongan Muda

Akibat menyerahnya Jepang kepada Sekutu di Indonesia terjadi vacuum of power, artinya tidak ada pemerintah yang berkuasa. Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan sebaik-baikinya oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Setelah mengetahui bahwa Jepang menyerah kepada Sekutu, para pemuda segera menemui Bung Karno dan Bung Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Dalam pertemuan itu, Sutan Syahrir sebagai juru bicara para pemuda meminta agar Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada saat itu juga, lepas dan campur tangan Jepang. Namun Bung Karno tidak menyetujui usul para pemuda karena proklamasi kemerdekaan perlu dibicarakan dahulu dalam rapat PPKI.

Persiapan Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan

Alasannya, badan inilah yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda menolak pendapat Bung Karno. Para pemuda berpendapat bahwa menyatakan kemerekaan melalui PPKI tentu akan dicap oleh Sekutu bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah pemberian Jepang. Para pemuda tidak menginginkan kemerdekaan Indonesia dianggap sebagai hadiah Jepang. Dengan demikian, usaha para pemuda dengan juru bicara Sutan Syahrir untuk membujuk Jr. Soekamo agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia mengalami kegagalan.

Karena belum berhasil membujuk Bung Karno, maka pada tanggal, 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB para pemuda kembali mengadakan rapat di Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur dengan dipimpin oleh Chaerul Saleh. Keputusan rapat mengajukan tuntutan radikal yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan persoalan rakyat Indonesia sendiri dan tidak dapat digantungkan pada orang dan kerajaan lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dan Jepang harus diputuskan. Sebaliknya, diharapkan diadakan suatu perundingan dengan Jr. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta agar segera menyatakan proklamasi.

Hasil keputusan rapat disampaikan kepada Bung Karno pada pukul 22.00 WIB oleh Darwis dan Wikana. Wikana menghendaki agar proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan oleh Bung Karno pada keesokan harinya tanggal 16 Agustus 1945. Mereka mengancam akan terjadi pertumpahan darah jika keinginan itu tidak dilaksanakan. Mendengar ancaman itu, Bung Karno marah.

Bung Karno sebagai ketua PPKI tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya, sehingga bersikeras ingin membicarakan terlebih dahulu dengan anggota PPM lainnya. Suasana tegang antara Darwis dan Wilcana, dengan Bung Karno disaksikan oleh para tokoh nasionalis golongan tua, seperti Drs. Mohammad Hatta, Mr. iwa Kusuma Sumantri, Ar. Buntaran, dr. Samsi, dan Ahmad Soebardjo.

Tampak perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan proklamasi. Golongan tua menghendaki diadakan rapat PPM terlebih dahulu. Sementara itu, golongan pemuda bersikeras menyatakan bahwa prokiamasi hams dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus lepas dan PPKI.

Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Setelah melalui peristiwa Rengasdengidok, akhirnya rombongan Soekarno Hatta sampai di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa zaman Jepang (pukul 23.00 WIB). Soekarno-Hatta setelah singgah di rumah masing masing, kemudian bersama rombongan lainnya menuju rumah Laksamana Maeda untuk merumuskan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Laksamana Maeda adalah seorang Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jepang di Jakarta tempat Ahmad Soebardjo bekerja sebagai stafnya.

Ahmad Soebardjo memohon agar para tokoh pergerakan diperbolehkan berkumpul di rumah Maeda untuk membicarakan persiapan Prokiamasi Kemerdekaan Indonesia besok pagi. Laksamana Maeda mengizinkan dan menjamin keselamatan mereka di rumahnya, Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta.

Baca Juga :   Supervisi Pendidikan : Pengertian, Tujuan, Prinsip, Fungsi Dan Objeknya Lengkap

Pada malam itu, Soekarno—Hatta juga menemui Kepala Pemerintahan Umum (Sumobuco), Mayor Jenderal Nishimura untuk menjajaki sikapnya tentang rencana Prokiamasi Kemerdekaan Indonesia. Soekarno-Hatta ditemani oleh Laksamana Maeda bersama Shigerada Nishijima, Tomegoro Yoshizumi, dan Miyoshi sebagai penerjemah. Ternyata Nishimura tidak berani mengizinkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, karena takut disalahkan oleh Sekutu. Dengan demikian Prokiamasi Kemerdekaan Indonesia memang harus dilakukan lepas dan pengaruh Jepang.

Malam itu juga segera diadakan musyawarah. Tokoh tokoh yang hadir saat itu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, para anggota PPM, dan para tokoh pemuda, seperti Sukarni, Sayuti Melik, B.M. Diah, dan Sudiro (Mbah). Mereka yang merumuskan teks prokiamasi berada di ruang makan, yakni Ir. Soekarno, memegang pena dan kertas, Drs. Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo turut mengemukakan ide idenya secara lisan.

Ahmad Soebardjo menyampaikan kalimat pertama yang berbunyi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, Mohammad Hatta kemudian menyempurnakan dengan kalimat kedua yang berbunyi, Hal-hal yang men genai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya.

Setelah konsep teks prokiamasi itu j adi, kemudian dibawa ke ruang depan tempat pemimpin Indonesia lainnya berkumpul untuk dimusyawarahkan. Saat itu timbul persoalan tentang siapa yang akan menandatangani teks prokiamasi. Chaerul Saleh menyatakan tidak setuju jika teks itu ditandatangani oleh para anggota PPKI sebab lembaga itu menurutnya merupakan bentukan pemerintah Jepang. Sukarni kemudian mengusulkan agar teks proklamasi ditandatangani oleh Jr. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, dan seluruh hadirin pun setuju.

Setelah itu, konsep teks prokiamasi diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik. Sebelum diketik dilakukan sedikit perubahan. yaitu pada kata “tempoh” diubah menjadi “tempo”, kalimat “wakil wakil bangsa Indonesia” diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”. Penulisan tanggal juga diubah sehingga menjadi Djakarta, Han 17 boelan 8 tahoen 05. Tahun 05 adalah tahun Showa (Jepang), yakni, 2605 yang sama dengan tahun Masehi 1945. Setelah selesai diketik, barulah teks prokiamasi ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad ilatta. Naskah inilah yang dianggap sebagai naskah autentik.

Perumusan teks prokiamasi sampai dengan penandatanganannya baru selesai pukul 04.00 WIB pagi han, tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu juga telah diputuskan bahwa teks proklamasi akan dibacakan di halaman rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada pagi han pukul 10.00 WIB.

Teks proklamasi tersebut walaupun isinya sangat singkat, mengandung makna yang sangat dalam karena merupakan pernyataan bangsa Indonesia untuk merdeka. Teks proklamasi akan mengubah jalannya sejarah bangsa Indonesia yang dahulu terjajah menjadi bangsa merdeka.

Pada tanggal 17 Agustus malam han juga telah berhasil membuat bendera Merah Putih yang dikibarkan pada saat upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal l7Agustus 1945. Keberhasilan pembuatan bendera Merah Putih tersebut atas jasa dan Ibu Fatmawati Soekarno.

Baca Juga :