Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia – Pengaruh atau Dampak Serta Penyebabnya

Posted on
Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia – Pengaruh atau Dampak Serta Penyebabnya
5 (100%) 1 vote[s]

Pengaruh Kolonialisme Dan Imperialisme Di Indonesia

Menjelang kedatangan bangsa Eropa, masyarakat di wilayah Nusantara hidup dengan tenteram di bawah kekuasaan raja-raja.

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia mula-mula disambut baik oleh bangsa Indonesia, tetapi lama-kelamaan rakyat Indonesia mengadakan perlawanan karena sifat-sifat dan niat-niat jahat bangsa Eropa mulai terkuak dan diketahui oleh bangsa Indonesia.

Pengaruh Kolonialisme Dan Imperialisme Di Indonesia

Perlawanan-perlawanan yang dilakukan rakyat Indonesia disebabkan orang-orang Barat ingin memaksakan monopoli perdagangan dan berusaha mencampuri urusan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Adapun perlawanan-perlawanan tersebut antara lain:

Perlawanan rakyat Indonesia terhadap Portugis

Setelah Malaka dapat dikuasai oleh Portugis 1511, maka terjadilah persaingan dagang antara pedagang-pedagang Portugis dengan pedagang di Nusantara. Portugis ingin selalu menguasai Perdagangan, maka terjadilah perlawanan-perlawanan terhadap Portugis. Perlawanan tersebut antara lain:

Perlawanan di Aceh terhadap Portugis

Sejak Portugis dapat menguasai Malaka, Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat dalam dunia perdagangan. Para pedagang muslim segera mengalihkan kegiatan perdagangannya ke Aceh Darussalam. Keadaan mi tentu saja sangat merugikan Portugis secara ekonomis, karena Aceh kemudian tumbuh menjadi kerajaan dagang yang sangat maju. Melihat kemajuan Aceh ini, Portugis selalu berusaha menghancurkannya, tetapi selalu menemui kegagalan. Keberhasilan Aceh untuk memperhatankan diri dari ancaman Portugis disebabkan:

  • Aceh berhasil bersekutu dengan Turki, Persia, dan India.
  • Aceh memperoleh bantuan kapal, prajurit, dan makanan dari pedagang muslim di Pulau Jawa.
  • Kapal Aceh dilengkapi persenjataan yang cukup baik dan prajurit yang tangguh.

Di antara raja-raja Kerajaan Aceh yang melakukan perlawanan adalah:

Sultan Ali Mughayat Syah (1514—1528)

Berhasil membebaskan Aceh dan upaya penguasaan bangsa Portugis

Sultan Alaudin Riayat Syah (153 7—1568)

Berani menentang dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Johor.

Sultan Iskandar Muda (1607—1636)

Raja Kerajaan Aceh yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda. Pada tahun 1615 dan 1629, Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka.
Usaha-usaha Aceh Darussalam untuk mempertahankan diri dan ancaman Portugis antara lain:

  • Aceh berhasil menjalin hubungan baik dengan Turki, Persia, dan Gujarat (India),
  • Aceh memperoleh bantuan berupa kapal, prajurit, dan makanan dan beberapa pedagang muslim di Jawa,
  • kapal-kapal dagang Aceh dilengkapi dengan persenjataan yang cukup baik dan prajurit yang tangguh,
  • meningkatkan kerja sama dengan Kerajaan Demak dan Makassar.

Permusuhan antara Aceh dan Portugis berlangsung terus tetapi sama-sama tidak berhasil mengalalikan, sampai akhirnya Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641. VOC bermaksud membuat Malaka menjadi pelabuhan yang ramai dan ingin menghidupkan kembali kegiatan perdagangan seperti yang pernah dialami Malaka sebelum kedatangan Portugis dan VOC.

Kemunduran Aceh mulai terlihat setelah Iskandar Muda wafat dan penggantinya adalah Sultan Iskandar Thani (1636—1841). Pada saat Iskandar Thani memimpin Acch masih dapat mempertahankan kebesarannya. Tetapi setelah Aceh dipimpin oleh Sultan Safiatuddin 91641—1675) Aceh tidak dapat berbuat banyak mempertahankan kebesarannya.

Ternate melawan Portugis

Pada awalnya Portugis diterima dengan baik oleh raja setempat dan diijinkan mendirikan benteng, namun lama-kelamaan, rakyat Ternate mengadakan perlawanan. Perlawanan ini terjadi karena sebab-sebab berikut ini:

  • Portugis melakukan monopoli perdagangan.
  • Portugis ikut campur tangan dalam pemerintahan.
  • Portugis ingin menyebarkan agama Katholik, yang berarti bertentangan dengan agama yang telah dianut oleh rakyat Ternate.
  • Portugis membenci pemeluk agama Islam karena tidak sepaham dengan mereka.
  • Portugis sewenang-wenang terhadap rakyat.
  • Keserakahan dan kesombongan bangsa Portugis.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka kehendak Portugis ditolak oleh raja Ternate. Rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun bersatu dengan Tidore melawan Portugis, sehingga Portugis dapat didesak. Pada waktu terdesak, Portugis mendatangkan bantuan dari Malaka dipimpin oleh Antoni Galvo, sehingga Portugis mampu bertahan di Maluku.

Pada tahun 1565, rakyat Ternate bangkit kembali di bawah pimpinan Sultan Hairun. Portugis berusaha menangkap Sultan Hairun, namun rakyat bangkit untuk melawan Portugis dan berhasil membebaskan Sultan Hairun dan tawanan lainnya. Akan tetapi melakukan tindakan licik dengan mengajak Sultan Hairun berunding. Dalam perundingan, Sultan Hairun ditangkap dan dibunuh.
Perlawanan rakyat Ternate dilanjutkan di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan Hairun). Pada tahun 1574 benteng Portugis dapat direbut, kemudian Portugis menyingkir ke Hitu dan akhirnya menguasai dan menetap di Timor-Timur sampai Tahun 1975.

Perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda

Perlawanan Mataram. (Perlawanan Sultan Agung)

Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613—1645). Cita-cita Sultan Agung adalah menyatukan kerajaan-keralaan Jawa di bawah pimpinan mataram.
Adapun sebab-sebab Mataram menyerang Batavia adalah:

  • Mengusir Belanda dan tanah air Indonesia.
  • Belanda sering merintangi perdagangan Mataram di Malaka.
  • Belanda melaksanakan monopoli perdagangan.
Baca Juga :   20 Bentuk Interaksi Sosial Beserta Contohnya di Masyarakat

SuItan Agung mengadakan penyerangan ke Batavia pertama kali tahun 1628. Pasukan pertama dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso. Adapun pasukan kedua dipimpin oleh Tumenggung Agul -Agul, Kyai Dipati Mandurorejo, Kyai Dipati Upusonto, dan Dipati Ukur. Namun serangan tersebut mengalami kekalahan.

Kegagalan serangan pertama tidak mengendorkan semangat melawan Belanda. Sultan Agung menyusun kembali kekuatan untuk melakukan serangan kedua dengan matang dan cermat. Pada Tahun 1629 Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya di bawah pimpinan Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Serangan kedua juga mengalami kegagalan, sebab persiapan Sultan Agung telah diketahui oleh VOC, gudang-gudang persiapan makanan Sultan Agung dibakar oleh VOC. Dalam peperangan itu Pimpinan VOC Y.P. Coen meninggal akibat penyakit colera, sehingga tentara Mataran mundur takut terserang penyakit. Kemudian perlawanan rakyat Mataram dilanjutkan oleh:

  • Trunojoyo (1674—1709)
  • Untung Suropati (1674—1706)
  • Mangkubumi dan Mas Said (1474—1755)

Pada saat perlawanan Mangkubumi, terjadi kesepakatan damai dengan Belanda dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (1755) yang isinya:

  • Mataram dibagi menjadi dua yaitu Mataram Barat (Jogja) dan Mataram Timur (Surakarta).
  • Mangkubumi berkuasa di Mataram Barat dan Paku Buwono berkuasa di Mataram Timur (Surakarta).

Banten melawan VOC

Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abdul Fatah yang dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa (1650—1682). Sultan Ageng Tirtayasa mengadakan perlawanan terhadap VOC (1651), karena menghalang-halangi perdagangan di Banten.
VOC dalam menghadapi Sultan Ageng Tirtayasa menggunakan politik devide et impera, yaitu mcngadu domba antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yang bernama Sultan Haji yang dibantu oleh VOC. Dalam pertempuran mi Sultan Ageng Tirtayasa terdesak dan ditangkap.

Kemudian Sultan Haji (putera Sultan Agung Tirtayasa) diangkat menjadi Sultan menggantikan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada Tahun 1750 meletus gerakan perlawanan terhadap pemerintahan Sultan Haji yang dipimpin Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Perlawanan dapat dipadamkan berkat bantuan VOC. Sctelah pertempuran selesai, Sultan Haji melakukan perundingan dengan VOC yang isinya:

  • Sultan Haji harus mengganti biaya perang.
  • Banten hams mengakui di bawah kekuasaan VOC.
  • Kecuali VOC, pedagang lain dilarang berdagang di Banten.
  • Kepulauan Maluku tertutup bagi pedagang Banten.

Makassar melawan VOC

Makassar berkembang pesat dan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654—1659). Sultan Hasanuddin menolak monopoli yang dilakukan oleh VOC, sehingga terjadilah perang dengan VOC. Peperangan berlangsung tiga kali. Pertama, terjadi pada tahun 1633, di mana VOC berusaha memblokade Makassar untuk menghentikan arus keluar masuk perdagangan di Makassar, namun usaha ini belum berhasil. pertempuran kedua terjadi pada tahun 1654, serangan ini juga belum berhasil.

Pertempuran ketiga merupakan pertempuran besar yang terjadi pada tahun 1667. Dalam perang ini voc melaksanakan politik devide et impera, yaitu mengadu domba antara Sultan Hasanuddin dengan Aru Palaka (Raja Bone).

Akhirnya, pada waktu itu Sultan Hasanudin dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya (1667) yang isinya:

  • Makassar mengakui kekuasaan VOC.
  • VOC memegang monopoli perdagangan di Makassar.
  • Aru Palaka dijadilcan Raja Bone.
  • Makassar harus melepaskan Bugis dan Bone.
  • Makassar harus membayar biaya perang VOC.

Karena kegigihannya melawan VOC, Sultan Hasanuddin dijuluki “Ayam Jantan dan Timur”.

Perlawanan Diponegoro (1825—1830)

Perang Diponegoro mulai meletus di Tegalrejo, Jogjakarta dan  meluas hampir ke seluruh Jawa. Bupati-bupati yang ada di bawah pengaruh Mataram ikut menyatakan perang terhadap Belanda. Maka perang Diponegoro sering disebut perang Jawa. Pangeran Diponegoro adalah putera sulung Sultan Hamengkubuwono III yang dilahirkan pada Tahun 1785. Ketika masih kecil bernama Pangeran Ontowiryo.
Sebab-sebab umum Perang Diponegoro:

  • Penderitaan rakyat sangat berat karena adanya bermacam-macam pajak.
  • Raja dan kalangan istana benci kepada Belanda karena wilayah Mataram makin dipersempit.
  • Ulama kecewa karena peradaban Barat mulai memasuki kalangan Islam.
  • Bangsawan kecewa karena tidak boleh menyewakan tanahnya.
  • Belanda ikut campur dalam urusan pemerintahan.

Adapun sebab-sebab khusus perang Diponegoro adalah rencana pembuatan jalan yang melintasi tanah makam leluhur pengeran Diponegoro tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada Pangeran Diponegoro.

Dalam perang Diponegoro, Belanda mengalami banyak kesulitan. Bahkan Belanda mengakui perang Diponegoro merupakan perang terberat dan memakan biaya yang besar.
Belanda menggunakan siasat benteng stelsel dalam melumpuhkan pcrlawanan Pangeran Diponegoro. Tujuan dan sistem benteng stelsel adalah:

  • Mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.
  • Memecah belah pasukan Diponegoro.
  • Mencegah masuknya bantuan untuk pasukan Diponegoro.
  • Bagi Belanda sendiri dapat memperlancar hubungan antara Belanda jilka mendapat serangan dan pasukan Diponegoro.
  • Memperlemah pasukan Diponegoro.

Sistem benteng stelsel ternyata belum berhasil mematahkan perlawanan Diponegoro. Kemudian Belanda mendatangkan pasukan dan daerah lain dan membujuk para pembantu Diponegoro untuk menyerah. Dengan siasat itu, para pembantu Pangeran Diponegoro sebagian menyerah, tetapi belum berhasil menangkap Pangeran Diponegoro.

Belanda menggunakan siasat baru dengan sayembara, tetapi juga belum berhasil. Pada tahun 1830 Belanda mengadakan tipu muslihat dengan mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding. Dalam perundingan itu Pangeran Diponegoro ditangkap. Setelah ditangkap Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang, kemudian diasingkan ke Batavia/Jakarta. Pada tanggal 3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Manado, dan pada tahun 1834 dipindahkan ke Makassar dan wafat di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855.

Baca Juga :