Kerajaan Bali – Sejarah Singkat, Raja-Raja, Kehidupan, Kejayaan, Keruntuhan, Dan Peninggalannya Lengkap

Posted on
Kerajaan Bali – Sejarah Singkat, Raja-Raja, Kehidupan, Kejayaan, Keruntuhan, Dan Peninggalannya Lengkap
5 (100%) 1 vote[s]

Kerajaan Bali – Sejarah Singkat, Raja-Raja, Kehidupan, Kejayaan, Keruntuhan, Dan Peninggalannya Lengkap

Kerajaan Bali – Kerajaan Bali adalah salah satu bagian dari sejarah kerajaan yang ada di Indonesia, dalam kehidupan masyarakat Bali yang menyeluruh. Pemerintahan kerajaan sudah beberapa kali berganti, karena kala itu ada banyak pertikaian yang memperebutkan daerah kekuasaan.

Kerajaan Bali

Kemungkinan pada mulanya nama Kerajaan Bali ini bernama Kerajaan Bedahulu yang dilanjutkan oleh Kerajaan Majapahit. Tetapi setelah Kerajaan Majapahit runtuh Kerajaan Gelgel mengambil alih kuasanya lalu dilanjutkan lagi oleh Kerajaan Klungkung.

Sayangnya saat pemerintahan Kerajaan Klungkung ada banyak terjadi perpecahan yang mengakibatkan terpecahnya kerajaan, menjadi delapan buah kerajaan kecil yang disebut dengan swapraja. Walaupun tidak banyak yang mengetahui sejarah Kerajaan Bali, tetapi Kerajaan Bedahulu atau Bedulu menjadi kerajaan yang pertama di wilayah Bali. Pusat kerajaannya terletak di Pejeng atau Bedulu Gianyar, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-8 sampai abad ke-14.

Ada banyak juga cerita yang menyebutkan bahwa konon kerajaan ini dipimpin oleh salah satu kelompok bangsawan, yang dimana pemimpinnya dikenal dengan nama Dinasti Warmadewa dan Sri Kesari Warmadewa.

Sejarah Singkat

Melalui beberapa prasasti yang ditemukan dapat dipastikan bahwa Kerajaan Bali didirikan oleh raja-raja dari Dinasti Warmadewa. Raja yang paling terkenal dari Kerajaan Bali adalah Dharmodhayana Warmadewa yang memerintah sejak tahun 989. Ia juga memimpin kerajaan dengan permaisurinya yang bernama Mahendradatha atau Gunapriyadharmaptani sampai tahun 1001.

Kemudian sang permaisuri wafat dan diabadikan di dalam sebuah candi yang letaknya di Desa Berusan, tepatnya di sebelah Tenggara wilayah Bedulu. Acaranya merupakan perwujudan dari Durga, yang ditemukan di daerah Kutri atau Gianyar.

Sang raja yang bernama Dharmodhayana Warmadewa masih memerintah kerajaan sampai tahun 1011 M. lalu wafat dan dicandikan di Banu Wka yang hingga kini keberadaannya masih belum diketahui. Di dalam perkawinan antara Dharmodhayana dan Mahendradatha, lahir tiga orang putra yang bernama Airlangga yang menikah dengan putri Dharmawangsa yang kemudian menjadi raja di Pulau Jawa, Marakata, dan Anak Wungsu.

Setelah ayahnya wafat tahta kerajaan pun diturunkan ke pangeran yang bernama Marakata dengan gelar Dharmodhyana Wangsawardhana Marakata Panjakasthana Uttunggadewa pada tahun 1011 hingga 1022.

Karena perhatiannya yang sangat besar pada rakyatnya kehadiran Beliau sangat dihormati di daerah kerajaan. Sikapnya pun bahkan seperti itu, ia sering kali dianggap sebagai penjelmaan dari kebenaran hukum. Bukti perhatiannya kepada rakyat kerajaan adalah dengan membangun sebuah tempat pertapaan atau prasada, di Gunung Kawi yang terletak berdekatan dengan Istana Tampak Siring.

Bangunan tersebut mempunyai ciri yang unik yaitu berupa pahatan yang ada di batu gunung yang bentuknya juga menyerupai candi, dengan bagian dasar yang terdapat gur pertapaan. Sampai saat ini bangunan pertapaan itu masih dilestarikan dengan baik, dan menjadi objek wisata di Bali yang ramai dikunjungi oleh masyarakat Bali.

Setelah Marakata wafat tahta kerajaan pun diturunkan pada putranya yang bernama Anak Wungsu dari tahun 1049 sampai 1077. Ketika pemerintahan Anak Wungsu ia juga meninggalkan 28 prasasti yang menjadi jumlah prasasti paling banyak, daripada raja-raja yang telah memerintah sebelumnya.

Anak Wungsu tidak memiliki keturunan, ia kemudian wafat dan didharmakan di daerah Gunung Kawi. Tahun 1430 Kerajaan Bali dipimpin oleh Raja Dalem Bedulu lalu kerajaan itu jatuh ke tangan Gajah Mada dari Majapahit.

Raja-Raja Dari Kerajaan Bali

1. Sri Kesari Warmadewi

Dalam Prasasti Blanjong yang bertuliskan angka 914 menyebutkan bahwa istana kerajaan berada di Singhadwalawa.

2. Ratu Sri Ugrasena

Sang Ratu memerintah sejak tahun 914-915, saat itu istananya terletak di Singhamandawa. Selama masa pemerintahannya Sang Ratu meninggalkan sekitar 9 buah prasasti. Pada umumnya prasasti itu berisi pembebasan pajak di beberapa daerah tertentu di kekuasaan kerajaan.

Bukan hanya itu, adapun prasasti yang memberitakan tentang pembangunan tempat-tempat suci. Wafatnya Ratu Sri didharmakan di Air Mandatu.

3. Tabanendra Warmadewa

Tabanendra Warmadewa memerintah kerajaan sejak tahun 955 hingga 967 masehi.

4. Jayasingha Warmadewa

Terdapat pro dan kontra tentang Jayasingha Warmadewa bahwa ia bukan merupakan bagian dari keturunan Tabanendra, karena di tahun 960 M bersamaan dengan kepemimpinan Tabanendra, Jayasingha Warmadewa sudah menjadi raja.

Mungkin saja ia merupakan putra mahkota yang sudah diangkat menjadi raja, sebelum ayahnya turun tahta. Di masa pemerintahannya ia juga membuat sebuah telaga atau pemandian dari sumber suci di Desa Manukraya. Pemandian itu dikenal dengan nama Tirta Empul dan letaknya berada di dekat Tampaksiring. Raja Jayasingha Warmadewa memimpin kerajaan hingga tahun 975 Masehi.

5. Jayashadu Warmadewa

Janasadhu Warmadewa memerintah kerajaan sejak tahun 975 hinga 983.

6. Sri Wijaya Mahadewi

Bukan hanya lelaki saja saat itu Kerajaan Bali juga sempat dipimpin oleh seorang wanita, yang bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Konon Ratu ini berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Tetapi ada pendapat yang berasal dari Damais, yang menduga bahwa Ratu adalah putri dari Empu Sindok dari Jawa Timur.

Hal itu berdasarkan beragam nama jabatan dalam Prasasti Ratu Wijaya itu sendiri, yang lazimnya disebut di dalam prasasti di Jawa tetapi tidak dikenal di Bali seperti misalnya makudur, madihati, serta pangkaja.

7. Dharma Udayana Warmadewa

Di pemerintahan Udayana lah Kerajaan Bali mengalami masa kejayaan, Beliau memerintah kerajaan dengan sang permaisuri yang bernama Mahendradatta, yang juga merupakan seorang putri dari seorang raja yang bernama Makutawangsawardhana dari Jawa Timur.

Sebelum Udayana naik tahta banyak orang yang menduga bahwa Beliau berada di Jawa Timur karena namanya memang ada di Prasasti Jalatunda. Pernikahan antara Udayana dengan Mahendradatta membawa pengaruh kebudayaan Jawa di Bali, menjadi semakin berkembang.

Misalnya bahasa Jawa Kuno yang mulai digunakan dalam penulisan prasasti dan mulai melakukan pembentukan dewan penasihat seperti pada pemerintahan kerajaan di Jawa. Udayana dengan permaisurinya memerintah kerajaan sampai tahun 1011 M, sampai pada akhirnya Ia wafat dan dikenal dengan Batara Lumah di Banuwka.

Dari pernikahan Udayana dengan Mahendradatta lahirlah tiga orang putra, yang diberi nama Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Dan dari ketiga anaknya itu Airlangga lah yang tidak pernah memerintah di Kerajaan Bali, karena ia menjadi menantu Dharmawangsa di Jawa Timur.

8. Marakata

Raja Marakata memiliki gelar kebangsawanan yaitu Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana Uttunggadewa. Ia memerintah sejak tahun 1011 hingga 1022. Dalam pemerintahan Marakata ini sezaman dengan Airlangga. Dan menurut  Stutterheim, sebenarnya Marakata adalah Airlangga karena adanya persamaan unsur nama serta nama pemerintahannya.

Baca Juga :   Masa Kolonial Eropa : Perkembangan Masyarakat, Kebudayaan dan Pemerintahan Indonesia

Cara kepemimpinan dan juga kepribadiannya juga serupa. Semenjak Marakata dijuluki sumber kebenaran hukum, ia pun selalu melindungi dan memerhatikan rakyat kerajaan. Sikapnya yang dermawan menjadikan ia disegani dan juga dihormati oleh para rakyatnya. Bukan hanya itu Marakata juga membangun sebuah candi atau persada, yang terletak di Gunung Kawi di daerah Tampaksiring Bali.

9. Anak Wungsu

Anak Wungsu mempunyai gelar  Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumah i Burwan Bhatara Lumah i Banu Wka. Ia menjadi Raja Bali kuno yang paling banyak meninggalkan prasasti, yang jumlahnya mencapai 28 prasasti. Yang tersebar di Bali Utara, Bali Tengah, dan Bali Selatan.

Anak Wungsu juga memerintah Kerajaan Bali selama 28 tahun sejak tahun 1049 sampai 1077. Anak Wungsu sering dianggap sebagai jelmaan Dewa Wisnu. Tetapi ia tidak memiliki keturunan, ia wafat pada tahun 1077 lalu dimakamkan di daerah Gunung Kawi.

10. Jaya Sakti

Jaya Sakti memerintah sejak tahun 1133 sampai 1150 M. yang sezaman dengan Pemerintahan Jayabaya di Kediri. Pada masa pemerintahannya, ia dibantu oleh penasihat pusat yang terdiri dari para senapati dan pimpinan keagamaan baik agama Hindu atau Budha. Jaya Sakti menggunakan kitab UU yang dinamakan kitab Utara Widdhi Balawan dan kitab Rajawacana.

11. Bedahulu

Tahun 1434 M kerajaan dipimpin oleh Sri Astasura Ratna Bhumi Banten atau Bedahulu. Dalam memimpin kerajaannya ia dibantu oleh kedua patihnya yang bernama Kebo Iwa dan Pasunggrigis. Bedahulu pun menjadi raja terakhir yang memimpin Kerajaan Bali, karena di masa pemerintahannya ia pun berhasil ditaklukan oleh Gajah Mada dan wilayah kerajaannya menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Kehidupan Politik Kerajaan Bali

Di awal tahun 989 sampai tahun 1011, Kerajaan Bali dipimpin oleh Udayana yang memiliki anak bernama Airlangga, Marakatapangkaja, dan Anak Wungsu. Airlangga kelak akan menjadi raja terbesar dari Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur. Menurut salah satu prasasti, Udayana juga menjalin hubungan yang baik dengan Dinasti Isyana di Jawa Timur. Hal ini tak lain karena Permaisuri Udayana yang bernama Gunapriya Dharmapatni, adalah keturunan Mpu Sindok.

Setelah wafat tahta Udayana pun diteruskan oleh putranya yang bernama Marakata. Di masa pemerintahan Marakata masyarakat menganggap bahwa sang raja adalah sumber kebenaran hukum, karena sifatnya yang dermawan dan selalu melindungi rakyatnya. Selama pemerintahan Marakata dibangunlah sebuah tempat ibadah, untuk masyarakat kerajaan yang ada di Gunung Kawi.

Sesudah Marakata wafat kepemimpinan kerajaan pun digantikan oleh adiknya yang bernama Anak Wungsu. Anak Wungsu pun menjadi raja terbesar yang berasal dari Dinasti Warmadewa. Selama pemerintahan Anak Wungsu ia pun berhasil menjaga kestabilan kerajaan, dengan cara menanggulangi beragam gangguan baik dari dalam maupun dari luar kerajaan.

Di masa pemerintahannya, Anak Wungsu juga dibantu oleh penasihat pusat yang dikenal dengan sebutan pakirankiran i jro makabehan. Badan penasihat itu terdiri dari senapati dan pendeta siwa dan Budha. Tugasnya adalah untuk memberi tafsiran dan juga nasihat pada sang raja di berbagai permasalahan yang muncul di kehidupan masyarakat.

Sementara Senapati mempunyai tugas di bidang kehakiman dan pemerintahan, kemudian pendeta bertugas untuk mengurusi masalah sosial dan agama.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Bali

Kegiatan ekonomi di masa Kerajaan Bali mengandalkan sektor pertanian. hal ini bukan tanpa alasan, karena sudah disebutkan di beberapa prasasti yang memuat beragam hal yang berkaitan dengan kehidupan bercocok tanam.

Ada beberapa istilah pada seputar bercocok tanam yang digunakan saat itu, diantaranya yaitu sawah, parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi). Selain mengandalkan bidang pertanian ditemukan juga kegiatan lainnya di masyarakat Bali. Yang diantaranya sebagai berikut :

1. Pande (Pandai = Perajin)

Masyarakat dengan golongan ini mempunyai kepandaian dalam membuat kerajinan perhiasan yang berbahan emas dan perak. Kerajinan yang dibuat biasanya berbentuk peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian, dan juga senjata.

2. Undagi

Masyarakat Undagi mempunyai kepandaian dalam hal pahat, lukis, serta seni bangunan.

3. Pedagang

Masyarakat Kerajaan Bali juga mengandalkan sektor perdagangan. Di masa Kerajaan Bali Kuno, perdagangan dibagi menjadi pedagang laki-laki yang disebut wanigrama dan pegadang perempuan yang disebut wanigrami.

Pada saat itu mereka mampu melakukan kegiatan berdagang sampai ke antar pulau. Hal itu tertera dalam sebuah prasasti yang bernama Prasasti Banwa Bharu.

Kehidupan Sosial Dan Budaya

Struktur kehidupan masyarakat yang berkembang di masa Kerajaan Bali Kuno, dilandaskan pada beberapa kegiatan seperti :

1. Sistem Kesenian

Kesenian yang sudah berkembang di wilayah kerajaan masyarakat Bali Kuno dibedakan atas sistem kesenian keraton dan sistem kesenian rakyat.

2. Sistem Kasta atau Caturwarna

Sama dengan kebudayaan Hindu di India, awalnya perkembangan agama Hindu di Kerajaan Bali sistem masyarakatnya terbagi dalam beberapa kasta. Tetapi sedikit berbeda, untuk masyarakat yang ada di luar kasta itu disebut dengan  budak atau njaba.

3. Sistem Hak Waris

Pewaris yang berupa harta benda di suatu keluarga dibedakan menjadi anak laki-laki dan anak perempuan. Dan anak laki-laki akan menerima warisan yang lebih banyak dari anak perempuan.

Agama dan Kepercayaan

Seperti yang telah kita ketahui bahwa masyarakat Kerajaan Bali sangat terbuka dalam menerima pengaruh dari luar, tetapi walaupun begitu mereka tetap mempertahankan tradisi kepercayaan nenek moyang mereka. Oleh karena itu di Bali ada beberapa penganut seperti penganut agama Hindu, Buddha, serta kepercayaan animisme.

Masa Kejayaan Kerajaan Bali

Di masa pemerintahan Dharmodayana Kerajaan Bali pun mengalami puncak kejayaan. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Bali mengalami puncak kejayaan yang sistem pemerintahannya lebih jelas dibanding sebelumnya.

Di masa pemerintahan Dharmodayana kekuatan kerajaan pun diperkuat atas perkawinan antara Dharma Udayana dengan Mahendradatta. Yang merupakan putri dari Raja Makutawangsawardhana yang berasal dari Jawa Timur.

Hal itulah yang menjadikan Kerajaan Bali semakin kokoh kekuatan dan kedudukannya diantara Pulau Jawa dan Bali.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Bali

Kerajaan Bali runtuh akibat siasat yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada yang saat itu sedang menjalankan misinya untuk memperluas wilayah ekspansinya ke wilayah nusantara. Awalnya Patih Gajah Mada mengajak raja dari Kerajaan Bali untuk berunding tentang penyerahan wilayah kerajaan ke tangan Majapahit. Sehingga Patih Kebo Iwa dikirim menuju Majapahit untuk melakukan perdamaian.

Tetapi sesampainya di sana Kebo Iwa dibunuh tanpa sepengetahuan Kerajaan Bali, kemudian Kerajaan Majapahit mengutus Patih Gajah Mada dan berpura-pura mengajaknya berunding bersama. Tetapi naasnya Kerajaan Majapahit juga malah membunuh Raja Gajah Waktra, sehingga Kerajaan Bali pun ada di dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Peninggalan Kerajaan Bali

  1. Prasasti Blanjong
  2. Prasasti Panglapuan
  3. Prasasti Gunung Panulisan
  4. Prasasti-prasasti peninggalan Anak Wungsu
  5. Candi Padas di Gunung Kawi
  6. Pura Agung Besakih
  7. Candi Mengening
  8. Candi Wasan.

Sekian pembahasan mengenai Kerajaan Bali yang sangat lengkap, mulai dari sejarah sampai penyebab keruntuhannya. Semoga artikel tentang sejarah kerajteraan di Indonesia ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda.

Baca Juga :